Berjalan Sendiri di Zaman Rusak: Ketika Kebenaran Membuatmu Kesepian

Bagikan Keteman :

Ada masa di mana menjadi baik justru membuatmu terasa asing.
Kau tak lagi punya banyak teman untuk berbagi, karena di sekitarmu — dosa sudah dianggap budaya, kebohongan sudah jadi alat hidup, dan kejujuran dicemooh sebagai ketololan.
Inilah masa di mana kebenaran tidak lagi dicintai, tetapi disingkirkan.


🌫️ 1. Dunia yang Terbalik: Dosa Jadi Kebiasaan

Kita hidup di zaman yang paradoks.
Riba dijalankan tanpa rasa takut. Suap dianggap “pelicin urusan.” Dusta jadi strategi cerdas.
Namun anehnya — mereka yang melawan arus, yang berani bicara benar, justru dimusuhi dan dihujat.

Yang lebih menyedihkan, para pelaku riba dan suap sering kali tampak religius, seolah menjaga kesucian — menolak nonton dangdutan atau tontonan erotis, padahal dosa riba dan suap jauh lebih busuk daripada sekadar menonton orkes.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Satu dirham riba yang dimakan seseorang, lebih besar dosanya daripada tiga puluh enam kali berzina.”
(HR. Ahmad dan Al-Baihaqi)

Ironi zaman: manusia berani mencibir kemaksiatan kecil yang tampak, tapi menutup mata dari kemaksiatan besar yang tersembunyi di rekening dan meja transaksi.


🩸 2. Ketika Kebenaran Membuatmu Sendiri

Menjadi orang jujur di tengah sistem yang busuk adalah ujian berat.
Engkau akan kehilangan teman, bahkan keluarga yang dulu dekat bisa menjauh.
Namun itulah harga mahal dari kejujuran — sepi.

Tapi jangan salah: kesepianmu bukan kelemahan.
Kesepianmu adalah tanda bahwa Allah sedang menyaring siapa yang layak berdiri di sisimu.

Nabi Ibrahim عليه السلام melawan seluruh bangsanya sendirian.
Nabi Nuh عليه السلام berdakwah 950 tahun hanya dengan segelintir pengikut.
Kesendirian mereka bukan kekalahan, tapi kemurnian.


🦁 3. Menjadi Singa di Tengah Padang Fitnah

Singa tidak butuh keramaian untuk membuktikan dirinya raja.
Ia berburu sendiri, berjalan sendiri, tidur sendiri — tapi tetap disegani seluruh hutan.
Begitulah seharusnya orang beriman di zaman rusak: tegas, tegar, dan tenang dalam kesunyian.

Biarlah orang lain saling menyanjung dalam kepalsuan,
engkau cukup berdiri tegak dengan kebenaran.
Sebab dalam hidup ini, lebih baik berjalan sendirian di jalan yang benar,
daripada berbondong-bondong di jalan yang salah.


🌄 4. Kesendirianmu Akan Mengantarmu pada Koloni Baru

Singa sejati akan menemukan koloni yang sejiwa — bukan yang banyak, tapi yang searah.
Begitu juga engkau.
Allah akan mempertemukanmu dengan jiwa-jiwa yang juga lelah dengan kepalsuan dunia,
jiwa-jiwa yang hidupnya hanya ingin satu hal: ridha Tuhan.

“Sesungguhnya Allah akan mempertemukan jiwa-jiwa yang saling mencintai karena-Nya, meski mereka belum pernah saling bertemu.”
(HR. Ahmad)

Jangan khawatir jika hari ini engkau merasa sendiri —
karena kesendirianmu adalah jalan menuju pertemuan suci dengan sesama penjaga iman.


🔥 5. Dari Sunyi Akan Lahir Kekuatan

Kesendirian bukanlah akhir.
Ia adalah fase pembakaran jiwa,
di mana segala topeng dunia luruh, dan yang tersisa hanyalah dirimu dan Allah.

Dalam sunyi, engkau akan belajar sabar.
Dalam sepi, engkau akan belajar tulus.
Dan dari rasa sakit karena kehilangan,
engkau akan menemukan kekuatan baru yang tak lagi bergantung pada manusia.


🌹 Penutup: Jalan Sunyi yang Mulia

Jangan takut jika dunia menertawakanmu karena menolak suap.
Jangan goyah jika orang mencibir karena engkau menolak riba.
Dan jangan menyesal jika engkau harus hidup sederhana tanpa tipu daya,
karena yang penting bukan banyaknya teman, tapi bersihnya hati.

“Maka bersabarlah engkau, karena janji Allah itu pasti.
Dan janganlah engkau terpengaruh oleh orang-orang yang tidak beriman.”

(QS. Ar-Rum: 60)

Ingatlah — di zaman di mana maksiat dirayakan,
menjadi orang baik adalah bentuk perlawanan paling berani.
Dan kalau kebenaran membuatmu sendirian,
maka ketahuilah — engkau sedang berjalan di jalan para nabi.


By: Andik Irawan

Related posts

Leave a Comment